Email : uin@ar-raniry.ac.id | Telpon : +651-7557321

Stadium General FEBI UIN Ar-Raniry Bahas Solusi Islam Atasi Krisis Keuangan Global

AR-RANIRY, Banda Aceh - Program Studi (prodi) Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry melaksanakan stadium general dengan tema ’Lesson learned from Global Financial Crisis and How Islamic Bank and Microfinance could sustain’ di Aula Lt.3 Biro Rektor UIN Ar-Raniry, Jum’at (20 Oktober 2017). Stadium yang dimoderatori Dr. Azharsyah, SE, M.S.O.Mini menghadirkan Dian Mashita, SE, MT, Ph.D, dosen senior Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran, Bandung.

Ketua Prodi Perbankan Syariah yang sekaligus sebagai penanggung jawab kegiatan ini, Israk Ahmadsyah, B.Ec.,M.Ec.,M.Sc mengatakan, kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa prodi Perbankan Syariah, para dosen di lingkungan FEBI serta tamu undangan yang berasal dari Perbankan Syariah, Masyarakat Ekonomi Syariah dan Lembaga Keuangan Mikro Syariah.

Prof. Dr. Nazaruddin A Wahid, MA selaku Dekan FEBI saat membuka acara mengemukakan beberapa isu yang saat ini berkembang di kalangan masyarakat, seperti isu bahwa operasional bank Islam belum sesuai dengan syariat, namun hal ini menarik untuk dikaji karena bisa saja persepsi masyarakat tentang syariah tidak sama dengan standard syariah sesuai dengan fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN).

Sementara itu, Dr. Dian Mashita dalam paparannya mengupas tentang bagaimana ekonomi ribawi telah mengakibatkan terjadinya krisis ekonomi dan keuangan dunia berkali-kali sejak depresi besar tahun 1930an di Amerika Serikat.

“Krisis ekonomi 2008 juga diakibatkan karena begitu kompleksnya permasalahan yang terjadi, banyaknya kredit macet yang terjadi akibat ketidakmampuan nasabah membayar hutang dan bunga selain terjadinya manipulasi berita mass-media demi kepentingan para pengambil kebijakan serta wujudnya ketamakan para investor, “ katanya menjelaskan.

Pada akhirnya, sambung Dian Mashita menyimpulkan, krisis keuangan terjadi karena problem yang muncul dari sistem keuangan yang begitu kompleks.

Dian Mashita menjelaskan, ekonomi ribawi hanya menampilkan kondisi yang disebut dengan bubble economics, yaitu seperti balon yang ketika meletus tidak memiliki isi. Maksudnya, betapa banyak transaksi keuangan, ternyata tidak dibackup oleh transaksi sector ril, dan ini adalah kegagalan terbesar karena tidak mampu melihat permasalahan kondisi ekonomi secara utuh.

Namun, kata Dian Mashita, yang menariknya, sistim perbankan Islam mampu bertahan dari krisis keuangan tersebut.

“Ini karena sistim keuangan syariah, selain melarang praktek riba, spekulasi, investasi sector haram, namun juga menawarkan pola bagi hasil yang dikenal adil meski harus melewati krisis. Artinya, keadilan mampu terjaga, baik ketika untung maupun saat terjadinya krisis karena system ini didukung oleh asset dan produk sehingga terjadinya keseimbangan antara sector ril dan sektor keuangan, “ pungkasnya. [zulkhairi]

0 Komentar